Shab-e yalda
Hello, Mommy muda,
kakak-kakak cantik dan sahabat sejati Pena Dijah di mana pun berada, semoga
kalian semua sehat dan bahagia selalu. Hari ini, Pena Dijah menulis mengenai
Shab-e yalda atau Shab-e Chelleh adalah
salah satu perayaan tertua bangsa Iran yang berusia 7000 tahun.
Malam Yalda atau
Shab-e Yalda dimulai sejak matahari terbenam pada tanggal 30 Azar (hari
terakhir musim gugur) dan berlanjut hingga terbitnya matahari pada 1 Dey (hari
pertama musim dingin). Seperti halnya Nowruz dan Chaharshanbe Suri, Yalda
berakar dalam sejarah dan budaya kuno Iran. Malam ini merupakan malam
terpanjang dalam setahun, dan orang Iran sejak dahulu merayakannya dengan
kegembiraan serta ritual khusus. Kata “Yalda” berasal dari bahasa Suryani yang
berarti “kelahiran” atau “lahirnya sesuatu”.
Usia perayaan ini
kembali ribuan tahun ke masa lalu. Beberapa arkeolog, dengan merujuk pada
temuan tembikar dan motif hewan yang berkaitan dengan kalender bulan Iran,
memperkirakan bahwa tradisi Yalda telah ada sejak tujuh ribu tahun silam.
Bangsa Iran kuno, berdasarkan mitologi dan pengetahuan tentang fenomena kosmik, merayakan Yalda. Ada dua kisah utama mengenai alasan diselenggarakannya malam ini.
- Kemenangan cahaya atas kegelapan:
Kehidupan masyarakat kuno bergantung pada pertanian dan peternakan,
sehingga perubahan siang dan malam sangat penting bagi mereka. Mereka
memandang cahaya dan matahari sebagai lambang kebaikan serta penciptaan,
sementara kegelapan dan dingin dianggap sebagai tanda kejahatan. Oleh
karena itu, orang Iran merayakan malam terpanjang dalam setahun, sebab
setelah itu siang hari menjadi lebih panjang dan terang mengalahkan gelap.
- Kelahiran Mithra (Mihr): Para
pemuja Mithra menganggap Yalda sebagai malam kelahiran dewa Mithra; sosok
ilahi yang muncul dari sebuah gua kecil dan membawa matahari ke dunia.
Dalam beberapa kisah juga disebutkan bahwa pada malam ini Mithra kembali
hadir dan membuat siang hari menjadi lebih panjang.
Tradisi dan Ritual Malam Yalda
- Bercerita dan membacakan peribahasa: Pada malam ini, keluarga Iran
berkumpul bersama. Para orang tua menceritakan kisah dan peribahasa untuk
anggota keluarga lainnya. Di setiap daerah, kisah-kisah lokal memiliki
tempat khusus.
- Ramalan Hafez: Salah satu tradisi populer Yalda adalah mengambil
ramalan dari Diwan puisi Hafez, penyair besar Iran. Sesepuh majelis
membuka kitab Hafez, membaca ghazal yang terpilih, lalu menafsirkannya.
Sebagian besar puisi Hafez bernuansa cinta dan penuh harapan, sehingga
ramalan ini biasanya membawa kegembiraan.
- Membaca Shahnameh: Membacakan Shahnameh, karya Ferdowsi sang
penyair besar Iran, khususnya dengan gaya penceritaan tradisional
(naqqali), merupakan bagian lain dari malam Yalda. Tradisi ini menjadi
simbol budaya dan identitas Iran.
- Menghias meja Yalda: Meja malam Yalda dihiasi dengan buah-buahan
seperti delima dan semangka, serta kacang-kacangan dan camilan
berwarna-warni. Delima dan semangka melambangkan matahari dan keberkahan,
sehingga menempati posisi utama di meja. Di samping itu, terdapat
buah-buahan kering seperti murbei, ara, irisan persik, dan aprikot.
Campuran kacang Yalda terdiri dari berbagai biji dan kacang kering, yang
menjadi simbol kelimpahan, kesehatan, dan kebahagiaan.
Tradisi-tradisi ini menjadikan Malam Yalda bukan
hanya sebuah perayaan astronomis, tetapi juga momen kebersamaan, budaya, dan
rasa syukur atas kehidupan.





Comments
Post a Comment